My Drama’s Love
Author : by me -Akabara
RedRoses-
“Maaf ya soal tadi,”
“Tak apa,” gadis itu tersenyum. Senyuman palsu.
“Aku kesana dulu ya,” pemuda itu menunjukkan
jarinya kearah yang ia maksud. Namun saat ia hendak berbalik pergi sang gadis
mencegahnya.
Pemuda itu menoleh dan melihat kearah sang gadis yang
kini tengah menggelengkan kepalanya. Tiba-tiba sang gadis memeluk tubuh sang
pemuda, membuat si pemuda kaget dan hendak melepaskan pelukannya.
“Jangan pergi,” ucap si gadis.
Pemuda itu terdiam menatap si gadis yang kini
memeluknya erat. Pemuda itu pun kemudian membalas peluknya sembari mengelus
kepala sang gadis lembut.
Lama mereka berpelukan, tanpa menyadari beberapa
pasang mata yang menatap mereka. Salah satu diantaranya adalah tatapan mata
kecemburuan.
“Sudah hug nya?” ucap si pemuda.
Si gadis pun mendongak sejenak menatap si pemuda
dan kemudian melepaskan pelukannya.
“Maaf,” lirih si gadis sembari menundukkan
kepalanya. Sepertinya ia malu.
“Kenapa harus minta maaf, hm?” tanya si pemuda
sembari mengangkat dagu si gadis dengan telunjuk dan ibu jari tangannya.
“Mmm...” gadis itu terdiam sejenak, memutar kedua
bola matanya, nampak berpikir. “Maaf karena memelukmu,”
Si pemuda terkikik geli. “Maafmu kuterima,”
“Terima kasih,” gadis itu tersenyum manis kearah
si pemuda.
Pemuda itu masih dengan senyumnya menganggukkan
kepalanya. “Ayo, kita kesana,”
“Mm,” gadis itu mengangguk dan mengikuti si
pemuda.
Namun hanya beberapa mereka melangkah, si gadis
menghentikan langkahnya. Ia menatap punggung si pemuda yang mulai jauh
meninggalkannya. Si gadis tersenyum, kemudian berbalik arah menuju pintu yang
lain.
Pemuda itu menyadari gadis itu tidak mengikutinya
lagi. Ia pun berhenti dan berbalik arah dan ternyata benar gadis itu tidak ada
dibelakangnya. Si pemuda itu memutuskan untuk mencari gadis itu pergi.
“Brige!” gadis lain yang menggunakan gaun hijau
menghentikan langkahnya.
Pemuda itu –Brige, menghentikan langkahnya dan
menatap kearah gadis tersebut. “Apa?”
“Aku mau bicara,”
“Sebentar,” Brige hendak melangkahkan kakinya lagi
namun kembali ditahan oleh gadis tersebut.
“Aku juga sebentar,” si gadis tetap kukuh.
Brige menghela nafasnya dan berbalik kearahnya.
“Apa? Cepat katakan,”
“Aku suka kamu!” ucap si gadis tegas.
Brige menatapnya sejenak. “Hanya itu?”
Nyve –nama gadis bergaun hijau– mengangguk.
“Kau sudah mengatakan itu bukan, aku sudah tau,”
Nyve kembali mengangguk. “Aku hanya ingin
mengatakannya kepadamu sekali lagi,”
Brige mengernyitkan keningnya, bingung. “Sudah
hanya itu? aku pergi dulu,”
Brige kembali berjalan, namun Nyve kembali menahan
tangannya. “Jangan pergi,”
Brige kembali dibuat bingung. Namun ia memilih
melepaskan cengkraman tangan Nyve di lengannya. “Aku tidak akan kemana-kemana,
tenang saja,” ucap Brige sebelum ia pergi, dan Nyve pun hanya menatap punggung Brige
yang perlahan mulai menjauh, sedih. Hatinya sakit.
Gadis lain bergaun merah sedang berdiri di atap
bangunan tanpa pagar pembatas tersebut. Ia berjalan dengan hati-hati keujung.
Setelah sampai di ujung ia melongokkan kepalanya ke bawah pelan-pelan. ia
merinding dengan pemandangan dibawahnya. Air terjun dengan jurang yang tak
kelihatan dasarnya. Benar-benar menakutkan.
“Kalau mau bunuh diri jangan disini,”
“Aah!” suara berat tersebut mengagetkannya,
membuatnya menoleh kebelakang dengan memundurkan tubuhnya dengan spontan.
Gadis itu tak ingat kalau ia berdiri di ujung
atap, sehingga membuat tubuhnya hilang keseimbangan saat kaki kirinya tak
menginjak permukaan.
Si pemuda tersebut dengan sigap segera menggapai
tangan si gadis dan menarik kearahnya. Sontak membuat mereka berpelukan sesaat.
Gadis itu tampak shock dengan kejadian yang hampir
saja akan menghilangkan nyawanya barusan. Ia mengelus-elus dadanya dengan muka
yang mendadak berubah pucat.
“Yang tadi itu hampir saja,” ucap si pemuda
membuat sang gadis mendongakkan kepalanya cepat.
“Kau mengagetkanku!” ucap si gadis sebal.
“Salah sendiri kau berdiri di sana seperti orang
mau bunuh diri saja,”
“Aku kan hanya penasaran,” si gadis masih
merengut.
“Tidak ada tempat lain selain disini apa?”
Gadis itu tak menjawabnya, masih merengut sebal.
“Sedang apa kau disini?”
“Gak boleh? Yauda aku kembali saja,” ucap si
pemuda kemudia berbalik hendak pergi. Namun seperti dugaannya lengannya di
tahan oleh si gadis.
“Aku kan hanya bertanya, tidak menyuruhmu pergi,”
“Oh,” diam sejenak. “Kenapa malah pergi kesini
tidak ikut denganku tadi,”
“Aku tidak ingin, lagian aku tidak punya
siapa-siapa disana,”
“Kau kan punya aku,”
“Gombalmu tidak akan mempan padaku,” gadis itu
tertawa.
“Ya sudah, aku kembali,” pemuda itu berbalik arah,
namun si gadis kembali menahan lengannya.
“Aku kan hanya bercanda,”
“Bercandamu jelek, ingat?”
“umm, enggak,”
“Tuh kan, pura-pura amnes!”
“Haha, ingat-ingat, gitu aja ngambek,”
Sementara itu disisi lain, di sebuah ruangan yang
tampak luas terdapat ribuan kursi yang berjajar dan tertata rapi dengan
berbagai orang yang menempatinya. Mereka terfokus kearah panggung yang kini
tengah mementaskan sebuah drama yang diadakan pihak sekolah dalam rangka
kegiatan akhir semester ganjil. Semuanya nampak menikmati acara yang disuguhkan
kecuali dengan segerombol anak yang kini tengah membicarakan sesuatu yang
penting. Walaupun mereka tengah sibuk dengan obrolan masing-masing, tapi mereka
tetap terfokus dengan satu topik.
“Kita tidak akan ikut campur dengan masalah ini.
biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan,” ucap seorang pemuda yang mengenakan
kostum prajurit.
“Tapi secara tidak langsung kita juga terseret
dengan masalah mereka,”
“Kalau begitu bagaimana cara kita agar kita tidak
ikut-ikutan terseret,”
“Caranya?”
“Dengan tidak peduli,”
“Tapi mereka juga teman kita,”
“Ya benar,”
“Nah itu permasalahan terbesarnya! Terserah
kalian! Aku tidak akan ikut campur,” pemuda itu pergi meninggalkan perkumpulan
tersebut.
“Semakin rumit,”
“Mereka sama-sama saling memperebutkan,”
“Apa laki-laki hanya ada satu didunia ini? kenapa
mereka malah saling berebut seperti itu?” nada mengejek.
“Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Ini masalah
mereka, kita tidak berhak ikut campur,”
“Ya benar,”
“Nyve ada rasa denganmu kan?” tanya gadis itu
lirih. Ia menundukkan kepalanya bermaksud untuk menyembunyikan raut sedihnya.
“Benarkah?” tanya Brige dengan nada tidak percaya.
“Jangan berpura-pura,” gadis itu masih menundukkan
kepalanya. Tak berani menatap sang objek bicara.
“aku tidak berpura-pura, aku baru saja tahu
darimu!”
“Oh ya?”
“Iya. Tuhkan moodku jadi buruk,” keluh Brige.
“Maaf,” gadis itu semakin menundukkan kepalanya. Hatinya
sakit. Ia merasa dibohongi. Ia tahu kalau pemuda di sebelahnya ini berusaha
menyembunyikan hal ini darinya. Tapi untuk apa?
“Kenapa harus minta maaf segala?”
Diam sejenak. “Spontanitas,” jawab gadis itu
singkat.
“Spontan dalam hal maaf?”
“Kenapa? Apa itu buruk?”
“Emm, tidak juga sih,”
Hening. Mendadak obrolan mereka terhenti. Suasana pun
menjadi sangat kaku diantara mereka berdua. Brige melirik kearah gadis bergaun
merah itu yang nampak menggigil kedinginan. Brigepun melepas jasnya dan
memakaikannya kepada gadis tersebut.
Gadis itu kaget dan menoleh kearahnya dengan
spontan. “Ap—“
“Tidak masuk kedalam? Disini dingin,”
Gadis itu memandang Brige. Ada perasaan sakit saat
Brige memperlakukannya seperti ini. kenapa hatinya menjadi sesakit ini?
bukannya ia malah senang dengan perlakuan sang pujaan hati?
“Tidak, aku suka disini,”
“jangan bohong. Ayo!” ajak Brige. Namun si gadis
malah diam menatapnya.
“Ayo!” ajak Brige lagi. Namun kali ini dengan
menarik lengan gadis itu agar berdiri. Brige membawa gadis itu masuk kedalam. Mereka
berjalan beriringan. Karena Brige tak mau kalau gadis itu pergi meninggalkannya
lagi.
Sesampainya didalam, ada beberapa pasang mata yang
menatap mereka dan salah satunya adalah tatapan kecemburuan yang sangat besar.
dan gadis itu menyadarinya. Hatinya mendadak menjadi sakit melihatnya.
Ia tak ingin hal ini terjadi. Tapi di sisi lain ia
sangat mengharapkan hal ini. ia juga tak mau melukai hati gadis lain karena
dirinya. But she won’t get hurt anymore! Dia bingung. Dia tidak mengerti apa
yang harus ia lakukan.
Haruskah ia menyerah? Haruskah ia menyerahkan
pujaan hatinya kepada gadis lain? Akankah ia sanggup menerima semua yang akan
terjadi nantinya? Apakah hatinya akan kuat? Ia tidak mengerti! Ia ingin Brige
memberikan keputusan. Ia akan benar-benar menyerah jika Brige benar-benar
memilih gadis itu. ia tidak menyesal. Ia tahu kalau Brige masih menyimpan rasa
tak enak hati kepada temannya yang merupakan mantan si gadis tersebut jika Brige
memilihnya ia. Ia tahu hal itu dengan benar. Dan jika itu memang alasannya. Ia akan
terima. Walaupun akan sakit diakhirnya :’)
yak! dan inilah hasil dari salah satu karangan saya yang menumpuk berabad-abad dan berhasil saya selesaikan. selesai? tidak juga wkwk XDD *taboked
maaf sangat abal dan mungkin ada beberapa typos, saya males ngedit haha xD *slaped again
padahal ini besoknya saya ada lomba loh, T_T ide selalu muncul dengan tidak mengenal sikon *gelindingan
oke terimakasih untuk yang sudah membaca, sekali lagi maaf untuk keabalan saya karena saya author baru ^_^
kritik dan saran sangat di terima
please don't copas it, if you want reposh this please give my credit ^_^ thanks

Tidak ada komentar:
Posting Komentar